Oleh : Muhammad Zaki Muntaha
Belakangan publik kembali di khawatirkan dengan beredarnya isu mengenai kebangkitan Pasukan Pengamanan Masyarakat Swakarsa (Pam Swakarsa) oleh Komjen Listyo Sigit, pasalnya sepak terjang dari Pam Swakarsa pada era Orde Baru melekat pada aksi-aksi yang justru meresahkan warga. Kebangkitan Pam Swakarsa ini dinilai oleh berbagai macam kalangan/elemen masyarakat dapat merugikan ketentraman dan keamanan warga. Dikutip dalam suara.com terdapat banyak penolakan untuk menghidupkan kembali pasukan pengamanan masyarakat swakarsa ini salah satunya adalah Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) yang menilai bahwa Pam Swakarsa akan memunculkan kembali sekumpulan orang-orang yang sewenang-wenang terhadap masyarakat, hal ini juga mencangkup munculnya tindak kekerasan dan premanisme. Sebelum kita membahasnya lebih lanjut, tahukah kalian apa itu pam swakarsa dan bagaimana sejarah dari berdirinya pam swakarsa? Yuk simak penjelasan dibawah ini.
Pam Swakarsa atau Pasukan Pengamanan Masyarakat Swakarsa adalah sebutan untuk kelompok sipil bersenjata tajam yang dibentuk oleh TNI untuk membendung aksi mahasiswa sekaligus mendukung Sidang Istimewa MPR (SI MPR) tahun 1998, yang berakhir dengan Tragedi Semanggi. Selama SI MPR, Pam Swakarsa berkali-kali terlibat bentrokan dengan para pengunjuk rasa yang menentang SI. Juga terlibat bentrokan dengan masyarakat yang merasa resah dengan kehadiran Pam Swakarsa. Sikap Pam Swakarsa ditambah dengan perlakuan diskriminatif aparat terhadap massa mahasiwa dibanding dengan pasukan Pam Swakarsa ini, membuat masyarakat antipati.
Sejak sebelum dimulai SI MPR saja sudah menimbulkan bentrokan fisik antara masyarakat dengan Pam Swakarsa yang dilindungi aparat. Pangab/Menhankam Jenderal TNI Wiranto, tetap bersikeras untuk mempertahankan eksistensi pasukan swasta tersebut. Padahal berbagai kecaman dan peringatan akibat negatif keberadaan mereka pun sudah dilontarkan berbagai pihak. Misalnya dalam Deklarasi Ciganjur, yang disampaikan oleh empat tokoh: Gus Dur, Megawati, Sultan Hamengkubuwono X, dan Amien Rais. Pam Swakarsa tak hanya mengamankan Gedung DPR/MPR Senayan, tetapi juga dikirimkan dengan truk-truk ke lokasi yang potensial menjadi daerah demonstrasi dan orasi mahasiswa, seperti Tugu Proklamasi atau Taman Ismail Marzuki. Mereka juga berunjuk kekuatan dengan berpawai melintasi kampus-kampus yang aktif. Mereka bahkan melakukan patroli malam diiringi dengan sedan polisi. Di lingkungan Senayan mereka beraksi menghalau para pejalan kaki dan pengendara sepeda motor yang lewat.
