SEJARAH IMM

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah atau yang biasa disebut dengan IMM merupakan sebuah organisasi gerakan mahasiswa Islam dan juga organisasi otonom Muhammadiyah yang bergerak di bidang KeagamaanKemahasiswaan, dan Kemasyarakatan. Terbentuknya IMM didasari oleh dua faktor, yakni faktor internal dan faktor eksternal.

Pertama, ialah faktor internal yang selaras dengan tujuan Muhammadiyah yaitu untuk menegakkan serta menjunjung tinggi agama Islam, sehingga terbentuk masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Muhammadiyah bermaksud untuk menghimpun dan membina kader di kalangan mahasiswa dengan cara mendirikan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan gagasan ini pertama kali di sampaikan pada saat muktamar Muhammadiyah ke-25 pada tahun 1936 yang pada saat itu Pimpinan Pusat Muhammadiyah di ketuai langsung oleh KH. Hisyam (periode 1934-1937). Namun karena dirasa belum cukup darurat untuk membentuk wadah bagi kader mahasiswa dan belum adanya perguruan tinggi, maka gagasan tersebut sementara didiamkan atau tidak dilanjutkan. Selain itu jumlah mahasiswa di lingkungan Muhammadiyah belum begitu banyak, sehingga pembinaan untuk mahasiswa muhammadiyah dirasa cukup dengan bergabung dalam Pemuda Muhammadiyah untuk putra dan Nasyiatul Aisyiyah untuk putri. 

Atas dasar pemikiran perlunya ditentuk sebuah perkumpulan khusus Mahasiswa Islam oleh mahasiswa organisasi otonom, maka mereka memilih alternatif dengan bergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Saat itu HMI dipegang langsung  oleh tokoh muhammadiyah yang secara administratif aktif mengelola HMI. Namun seiring berkembangnya HMI, terjadi perbedaan ideologi dengan Muhammadiyah mengenai cara memandang Islam, sehingga Muhammadiyah memutuskan untuk memisahkan kader-kader mahasiswanya dengan HMI.

Hingga 18 November 1955 Muhammadiyah membentuk departemen pelajar dan mahasiswa sebagai wadah untuk menampung aspirasi pelajar dan mahasiswa Muhammadiyah. Saat Muktamar Pemuda Muhammadiyah yang pertama pada tahun 1956 ditetapkan untuk menghimpun dan membina pelajar dan mahasiswa Muhammadiyah dalam organisasi yang terpisah dari Pemuda Muhammadiyah. Maka pada saat konferensi pimpinan daerah muhammadiyah (KONPIDA) pada 28 Juli 1962 diputuskan untuk mendirikan IPM (Ikatan Pelajar Muhamadiyah)

Perguruan tinggi Muhammadiyah yang ada di Indonesia yang pertama kali dirintis  oleh Fakultas Hukum dan Filsafat di Padang Panjang dan Sekolah Perguruan di Jakarta. Maka atas gagasan tesebut i-tikad untuk membentuk sebuah organisasi mahasiswa Muhammadiyah semakin kuat. Menjelang Muktamar Muhammadiyah setengah abad di Jakarta pada tahun 1962  diadakanlah  Kongres Mahasiswa Muhammadiyah yang bertempat di Yogyakarta dan hasil dari kongres ini yaitu, melepaskan Departemen Kemahasiswaan untuk berdiri sendiri dari Pemuda Muhammadiyah dikarenakan semakin bertambahnya mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah dan Putra-Putri keluarga besar Muhammadiyah, maka dibutuhkanlah sebuah  wadah berorganisasi khusus mahasiswa Muhammadiyah. Akhirnya, 1963 didirikan Lembaga Dakwah Mahasiswa yang di koordinir oleh : Ir. Margono, Dr. sudibjo Markoes, Drs. Rosyad Saleh. Sedangkan ide pembentukannya dari Drs. Moh. Djazman Al-kindi. Hingga 14 Maret 1964 (29 Syawal 1384 H)  didirikanlah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah yang diresmikan oleh ketua PP Muhammadiyah H.A Badawi di Yogyakarta dengan tujuan yaitu, mengusahakan terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia dalam mencapai tujuan Muhammadiyah.

Sementara faktor yang kedua adalah eksternal, membahas terkait kondisi umat Islam dan politik di Indonesia pada tahun 60-an. Yang dimana pada saat itu kondisi umat Islam yang masih mempercayai dan mengikuti ajaran nenek moyang yang berlawanan dengan syariat ajaran agama Islam. Hal ini tentu akan berdampak pada mahasiswa yang semestinya dapat berpikir kiritis dan jauh ke depan. Sementara keadaan politik yang bergejolak dimana pemerintahan Indonesia yang tidak stabil, pemerintahan yang bersifat otoriter dan adanya ancaman ideologis komunisme di Indonesia.

Trilogi Ikatan dan Tri Kompetensi

Trilogi merupakan lahan juang Ikatan dan juga merupakan simbol Ikatan dalam melakukan transformasi sosial. Pengaplikasian trilogi ikatan yang secara kontinyu menjadikan eksistensi Ikatan dapat muncul, sehingga membedakan ikatan dengan gerakan yang lain seperti KAMMI, PMII, dan HMI. Gerakan Ikatan masih dalam lingkunan Muhammadiyah untuk bangsa dan agama Islam. Maka dari itu, hal ini tertuang dalam trilogi; kemahasiswaan, keagamaan, dan kemasyarakatan. Trilogi ini merupakan tugas berat bagi IMM dalam melaksanakan tugasnnya karena ketiganya adalah cerminan dari nilai-nilai Ikatan. Sifat trilogi ini merupakan kesatuan yang artinya satu sama lain tidak dapat dipisahkan namun dapat dibedakan. Trilogi Ikatan merupakan pengambilan intisari dalam deklarasi pada waktu muktamar IMM di Solo (Enam Penegasan IMM).

Pemaknaan trilogi sebagai ruh gerakan ikatan dinamai sebagai tri kompetensi dasar Ikatan. Makna ini bermaksud ingin menjadikan spirit atau yang harus dimiliki oleh Ikatan sebagai seorang kader dengan interpretasi simbol-simbol trilogi Ikatan seperti, keagamaan menjadi religiusitas (transendensi), kemahasiswaan menjadi intelektualitas dan kemasyarakatan menjadi liberatif dan humanis.